
Fernando Surya, 20FIT Gym Head Coach, baru saja mengikuti kejuaraan HYROX di Bangkok, Tailan. Dia tidak puas dengan catatan waktu dari kelas single pro yang diikuti meskipun sudah melakoni latihan selama 3 bulan sebelum hari kompetisi. Semua tidak lepas dari rentetan situasi yang membuatnya tidak bisa tampil prima dalam melibas lintasan lari dan 8 station.
“Kaki saya terasa kram saat memasuki lap ke-5,” ujar Fernando merinci rangkaian peristiwa dari BYD HYROX Bangkok 2026, dia mendapatkan jadwal bertanding pada hari Minggu (22/3) malam. Awalnya, dia berencana untuk ‘ngegas’ setelah station ke-4, tapi yang terjadi justru sebaliknya gara-gara kondisi kakinya.
Pada lap ke-7, terutama saat dia melakoni sandbag lunges yang mengharuskan peserta untuk melakukan lunge sambil berjalan ditambah memanggul beban berupa kantong pasir seberat 30 kilogram yang diletakkan di atas bahu. Yang dia ingat saat itu hanyalah sensasi sakit yang luar biasa pada pahanya.
“Tenaga masih ada, nafas masih panjang, tapi kaki seperti menolak bekerja sama,” ujarnya.
Untunglah Fernando berhasil menyelesaikan perlombaan, meski ternyata ‘penderitaannnya’ belum selesai. Nyeri dan pegal pada otot yang muncul belakangan, kerap disebut sebagai delayed onset muscle soreness (DOMS) ternyata awet hingga 5 hari, padahal biasanya atlet lain mengalami nyeri serupa dalam kurun waktu 1-2 hari saja.
Padahal, arena lomba di Bangkok dia sebut cukup ideal. Terdapat lintasan lari yang panjang sehingga peserta hanya perlu berlari 1 putaran saja untuk mendapatkan jarak 1 kilometer. Roxzone atau area peralihan dari aktivitas lari menuju station seperti SkiErg, Sled Push, Sled Pull, Burpee Broad Jumps, Rowing, Farmers Carry, Sandbag Lunges, dan Wall Balls, diatur rapi dan tersedia berurutan. “Water station pun selalu ada sehingga peserta tidak pernah kekurangan hidrasi,” kata Fernando.
Dijumpai secara terpisah, Fernando tahu betul penyebab dari performanya yang tidak ideal di Bangkok saat itu. Dia berharap pengalamannya bisa menjadi pelajaran berharga bagi para peserta HYROX yang bersiap untuk mengikuti lomba sejenis di masa mendatang.
Kurang istirahat
Awal dari rentetan situasi yang tidak ideal tersebut, lanjut Fernando, sudah terjadi sejak kedatangan di Bangkok. Dia mendapat slot lomba pada hari Minggu pukul 20.30 waktu setempat, tetapi dia baru mendarat di Bandar Udara Suvarnabhumi Bangkok pada Minggu dini hari.
Artinya, dia harus duduk berdesakan di kursi pesawat selama 3 jam lebih, mendarat jelang tengah malam, dan baru tiba di hotel sekitar pukul 2.00 dini hari. Meskipun bisa tidur hingga pagi hari, siklus istirahatnya sudah terganggu.
“Yang dirasakan di garis start adalah kaki yang terasa tidak ‘fresh’ padahal seharusnya itu tidak terjadi kalau kita sudah melakukan peregangan,” ujar Fernando yang juga seorang pelatih berlisensi HYROX Performance Coach Affiliate.
Yang seharusnya dilakukan
Ditanya soal apa yang seharusnya dilakukan untuk menghindari situasi serupa terulang, Fernando menjawab datang paling tidak dua hari sebelum hari lomba untuk membiasakan diri atau aklimatisasi. Mereka bisa menghabiskan waktu dengan berlatih, meditasi, atau persiapan lainnya agar tampil prima selama perlombaan.
“Jangan sampai persiapan panjang yang dilakukan selama tiga bulan terakhir justru melewatkan hari-hari krusial yang menentukan performa kita. Belum termasuk beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti hidrasi, tidur, dan carbo loading,” lanjutnya.
Selepas Bangkok, Fernando sudah bersiap untuk mengikuti AirAsia HYROX Incheon yang berlangsung pada bulan Mei mendatang. Pengalamannya akan menjadi pelajaran yang berharga, tidak saja baginya tetapi juga mereka yang ingin tampil prima di arena HYROX.