Event
|
|
Gym
|
|
|

Berebut Panggung di Lintasan Lari

Pelarangan penggunaan segala jenis perangkat perekaman foto dan video baru saja ditegaskan oleh pengelola lomba Triatlon Ironman yang berlaku sejak 2 Maret 2026. Sanksinya tegas: diskualifikasi tanpa ruang negosiasi. Akankah ketentuan yang sama bakal diberlakukan untuk perlombaan lari yang sedang marak di Indonesia, salah satunya didorong oleh tren berburu engagement di media sosial. 

Tren Berlari dan Industri Konten

Pagi yang masih gelap, udara dingin menusuk badan, ribuan orang berdesakan di titik start lomba lari. Setiap orang di sana datang dengan persiapan fisik dan mental sebelumnya, kini sedang memusatkan konsentrasinya agar bisa berlari dengan pace yang dikuasai dan menjaga tempo hingga tiba di garis akhir nanti. Inilah ritual para pelari sambil menunggu bendera tanda dimulainya lomba lari untuk diangkat.

Fenomena tersebut kian marak dijumpai di Indonesia, dengan jadwal lomba lari yang padat terisi hampir setiap bulan. Tidak jarang, ada perhelatan yang “bentrok” karena berebut jadwal. Inilah run culture di Indonesia yang tengah bergeliat, di tengah dukungan dari brand seperti baju olahraga, perangkat teknologi, sepatu, suplemen, minuman, hingga brand yang ingin tap in kepada komunitas yang terbentuk di dalamnya.

Fenomena ini juga berkelindan dengan tren berburu engagement dengan mengunggah konten-konten berlari, mulai dari berbagi hasil Strava atau aplikasi untuk tracking lari mereka, pose menarik saat berlari, hingga konten-konten lainnya. Hingga kemudian, ada pelari yang mendedikasikan diri untuk membuat konten media sosial untuk dibagikan kepada sesama, dari sinilah muncul istilah runfluencer. 

Para pemengaruh ini mengunggah konten untuk menginspirasi agar mulai berlari, mengikuti lomba lari yang sama, atau mencoba produk yang mereka pakai. Mereka tidak sekedar berlari, tetapi memproduksi konten bahkan sejak sebelum lomba lari digelar. Di garis awal, mereka bisa saja membuat selfie dengan smartphone-nya, tidak ketinggalan pose bersama medali setelah melintasi garis finis.

Kecanggihan teknologi juga mendorong produk-produk yang memanjakan para pelari untuk dapat merekam foto maupun video secara ringkas namun tetap berkualitas tinggi. Mulai dari smartphone yang sudah memiliki teknologi peredam guncangan dan output video hingga 4K, ada juga action camera yang bisa memproduksi hasil yang lebih baik lagi dengan ukuran yang jauh lebih ringkas. Merek seperti Meta juga merilis produk kacamata yang bisa merekam video dengan resolusi tinggi, praktis karena pelari tidak perlu lagi memegang perangkat.

Unggahan mereka bisa berupa foto di garis finisi sambil berpose bersama medali yang didapat karena menyelesaikan lomba. Yang marak adalah cerita sebagai ‘virgin’ half marathon atau mereka yang pertama kali menyelesaikan lomba lari sejauh 21,1 kilometer, tidak peduli catatan waktu yang dibuat tetapi proses yang dibagikan dari memulai latihan lari yang puncaknya adalah pengakuan medali yang dipajang di akun media sosial.

Riset internal Strava menyebut 70 persen penggunanya termotivasi untuk berolahraga karena melihat aktivitas temannya. Ini membuktikan peran penting dari para runfluencer dalam menjaga tren berlari terus menyala, sekaligus menjadi bara dalam sekam karena berpotensi menggeser motivasi untuk berlari dari sebelumnya menjadi lebih sehat untuk mendapatkan lebih banyak engagement. Berlari demi konten.

‘Pelari Kalcer’ istilah yang marak di Indonesia merujuk kepada fenomena bergesernya penggunaan aplikasi Strava dari sebelumnya untuk tracking pencapaian lari mereka, menjadi ajang untuk mendapatkan validasi dari lingkungannya. Sebuah jurnal berjudul ‘Self Identity Pelari Kalcer Gen Z melalui Aplikasi Strava‘ yang ditulis Iin Soraya, Herman, dan Laurensia Retno dari Universitas Bina Sarana Informatika, membedah fenomena pelari kalcer sebagai salah satu pendukung dari budaya berlari di Indonesia.

Fenomena ini juga memiliki ekses, seperti ‘joki Strava’ yang bermula dari lelucon menjadi peluang bisnis, berupa orang yang menawarkan jasanya untuk berlari dengan menggunakan akun milik penyewa sehingga dia bisa memamerkan hasilnya ke media sosial layaknya dilakoni sendiri. Padahal kakinya tidak digunakan berlari dan tidak muncul keringat satu pun.

Kampanye promosi lomba lari yang mengajak peserta dari berbagai daerah untuk merasakan momen virtual melahirkan tren lemari pendingin yakni pelari yang membuat konten menggunakan lemari pendingin di minimarket dan ditutup dengan catatan Strava mereka. Inilah bukti nyata bahwa validasi digital sudah menjadi bagian dari budaya lari di Indonesia.

Inilah realitas dari industri lari yang tidak terpisahkan dengan runfluencer. Dari sekadar berlari untuk sehat melintasi jarak dan waktu, kini bergeser menjadi ajang untuk produksi konten media sosial untuk memastikan konten estetik yang mendulang ‘likes’.

Cukup, kata Ironman

Pada awal Maret 2026, Ironman, organisasi triathlon jarak jauh terbesar di dunia, memberlakukan aturan baru dengan kalimat yang lugas: melarang penggunaan foto, video, maupun gambar visual selama lomba menggunakan perangkat apapun. Pelanggaran ini berujung pada diskualifikasi secara langsung.

Kalimat ini jelas melarang hadirnya pelarang untuk membuat selfie, merekam dengan smartphone, action cam, atau kacamata khusus untuk melakukan siaran live. Ini berarti tidak lagi ada atlet yang merangkap sebagai kameramen sepanjang pertandingan berlangsung.

Pelarangan ini masih membuka ruang untuk penggunaan perangkat GPS untuk pelacakan oleh keluarga. Ponsel pun masih bisa dipergunakan dalam keadaan darurat, setelah peserta berhenti.

Aturan baru ini mempertegas kalimat sebelumnya yang membuka ruang untuk interpretasi dari berbagai sudut pandang. Sejak tahun 2017, Ironman memang mengatur penggunaan perangkat yang dianggal ‘mengalihkan perhatian’ tanpa merinci lebih detail. Ini berarti tidak ada yang bisa memutuskan tegas saat seorang atlet tetap bertanding sambil melakukan siaran langsung dari atas sepedanya disebut dengan penggunaan perangkat yang ‘mengalihkan perhatian’.

Melalui definisi yang lebih rigid, Ironman mengubur ruang-ruang untuk interpretasi tersebut. Ditambah lagi, penyebutan ‘kaca mata’ secara eksplisit adalah bentuk kekhawatiran dengan fenomena sosial yang muncul dari kegiatan livestreaming yang melibatkan wajah-wajah peserta lain tanpa mendapatkan persetujuan sebelumnya. Ironman sedang menghindari kemungkinan munculnya masalah di kemudian hari.

Di tengah fenomena tumbuhnya fenomena berlari serta sikap tegas dari Ironman, muncul kegelisahan tentang penerapan aturan serupa yang melarang untuk perekaman video pribadi dalam lomba lari. Pergeseran budaya berlari untuk aktualisasi diri di lini masa media sosial dalam batasan tertentu masih terbilang jinak, hingga kemudian menjadi masalah nyata saat pembuatan konten pribadinya bersinggungan dengan kepentingan ribuan pelari peserta lainnya.

Kasus yang menimpa Matt Choi barangkali bisa menjadi pelajaran berharga. Pelari sekaligus runfluencer asal Texas, Amerika Serikat, ini harus pasrah saat catatan waktu yang dibuat dalam perhelatan NYC Marathon yakni 2 jam 57 menit 15 detik harus dihapus oleh New York Road Runners (NYRR) sehari setelah lomba. Bahkan, pemilik akun dengan pengikut di Instagram sejumlah 400.000 lebih dan 465.000 lebih di Tiktok juga dilarang untuk mengikuti event yang digelar oleh NYRR di kemudian hari.

Alasannya, Choi yang berlari sejauh 42,2 kilometer ditempel oleh dua orang tim kameramen tanpa izin, menaiki e-bike dan merekam setiap langkah untuk konten media sosial. Kehadiran sepeda listrik itu ternyata tanpa izin, dan menghalangi jalur ribuan peserta lain untuk berlari, menuju stasiun pengisian air, dan pada akhirnya membahayakan keselamatan. Runna, brand yang mensponsori Choi, memutus kontrak kerja sama tidak lama kemudian.

Dalam ucapan permohonan maafnya, Choi mengakui kesalahannya melalui kalimat “Saya menjadikannya tentang diri saya sendiri, padahal New York City Marathon adalah tentang semua orang dan komunitas.”

Insiden ini tidaklah berdiri sendiri tetapi memiliki benang merah yakni memperlakukan lomba layaknya lokasi produksi konten pribadi tanpa mempedulikan peserta lainnya.

Diskusi perihal pembatasan perekaman selama lomba berlangsung bukanlah soal membenturkan pelari puritan yang membenci kamera, atau pelari yang pragmatis memanfaatkan tren yang berlaku. Arah pembicaraan sebaiknya perlu diarahkan kepada aspek keselamatan dan privasi dari peserta.

Seseorang yang sedang mengambil video atau foto swafoto sewaktu berlari artinya sedang mengalihkan perhatian dari jalannya lomba. Dia berpotensi untuk membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Misalnya itu terjadi pada seorang pelari trail yang sedang menyusuri jalur berbatu, itu adalah sebuah risiko kecelakaan yang nyata.

Hak Pribadi vs Ruang Bersama

Isu privasi menjadi dimensi lain yang perlu dibahas bersama. Misalnya seorang pelari yang sedang melakukan live streaming, dia tidak hanya menyorot mukanya sendiri, melainkan peserta lain yang jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan. Secara sepihak, dia merekam pelari lain tanpa izin, yang bisa jadi sedang tidak berada di dalam kondisi prima mereka dan bisa jadi tidak pernah menyetujui untuk ditampilkan dalam konten orang lain.

Insiden seperti Matt Choi bisa jadi contoh ekstrem yang dijadikan pembenaran untuk pelarangan kamera masuk ke lintasan perlombaan lari. Perlu juga mempertimbangkan motivasi pelari untuk membawa smartphone ke tempat lomba, misalnya para pelari baru yang ingin mengabadikan pencapaian pribadinya untuk dibagikan kepada keluarga dekat atau komunitasnya. Ada juga pelari yang hadir untuk misi kemanusiaan yang ingin mendokumentasikan perjalanan mereka kepada para donatur.

Seluruh pihak juga tidak bisa menyangkal bahwa lari kini telah berubah menjadi mesin pemasaran organik yang nilainya tidak ternilai bagi para penyelenggara, brand yang menjadi sponsor, kota yang menjadi tuan rumah lokasi lomba, dan banyak lagi. Konten lari mengisi linimasa, mengajak orang lain untuk bergabung, serta memperpanjang percakapan akan acara tersebut bahkan jauh setelah dilangsungkan.

Pekerjaan rumah berikutnya terkait dengan penegakan aturan bagi ribuan peserta untuk memastikan sanksi bagi yang melanggar. Infrastruktur seperti apa yang bisa diimplementasikan untuk memastikan peraturan ini memberi keadilan bagi seluruh peserta.

Bukan Hitam-Putih

Sebuah pertanyaan yang menggelitik dari perkembangan situasi ini adalah “Apakah perlombaan di Indonesia akan membatasi penggunaan perangkat kamera di lokasi lomba?” Jawabannya tidak hitam-putih, memang.


Belajar soal titik temu ruang privasi dan kepentingan bersama bisa dari polemik FotoYu, layanan marketplace foto. Layanan ini memungkinkan pelari bisa menebus foto yang diambil oleh fotografer dengan harga tertentu, memanfaatkan teknologi AI untuk pengenalan wajah yang dicocokkan dengan data biometrik wajah saat mendaftar akun pertama kali. Perdebatan lantas bergeser menjadi gesekan saat mulai muncul keluhan soal foto yang diambil tanpa izin, maupun keharusan untuk menyerahkan data biometrik agar bisa membeli foto.

Polemik FotoYu pun ditengahi oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital yang menegaskan bahwa wajah seseorang adalah data pribadi yang dilindungi UU Nomor 27/2002 tentang Perlindungan Data Pribadi.

Skena lari di Indonesia yang tumbuh cepat, salah satunya didorong oleh kehadiran media sosial, hanya menunggu satu momen viral yang salah untuk menjadi katalis dalam memperbincangkan soal ini. Misalnya, kameramen yang berdiri di garis finis untuk membidik gambar seorang influencer yang mencapai momen kemenangannya, sehingga mengganggu pelari lain, bisa jadi ledakan yang akan memaksa untuk melakukan perbaikan dengan segera.

Yang bisa dilakukan penyelenggara saat ini adalah mengantisipasi potensi masalah sebelum terjadi masalah yang tidak diinginkan di kemudian hari. Contohnya pengaturan soal kru kamera eksternal dalam lingkungan lomba, antisipasi di zona yang padat seperti water station, serta pengaturan untuk perangkat yang bisa merekam secara tersembunyi seperti kacamata berkamera.

Larangan yang diterapkan oleh Ironman barangkali terlalu jauh untuk diterapkan di lomba lari biasa, tetapi pesan besarnya perlu diyakini bahwa lomba lari adalah milik bersama, bukan untuk diklaim secara individu. Sebagai pelari yang punya hak untuk mengabadikan perjalanannya, perlu juga menghormati pelari di sekitarnya yang ingin berlari tanpa ada sorotan kamera.