Selama bulan Ramadan, tren sahur run semakin populer di kalangan komunitas lari. Aktivitas ini biasanya dilakukan pada dini hari, sekitar pukul 02.00 hingga menjelang waktu sahur. Setelah berlari, para peserta biasanya langsung makan sahur bersama sebelum memulai puasa.
Selain menjadi cara menyenangkan untuk tetap aktif selama Ramadan, sahur run juga menjadi ajang berkumpulnya komunitas lari. Namun, di balik keseruannya, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa olahraga di jam yang sangat pagi ini tetap memiliki kelebihan sekaligus risiko yang perlu dipahami.
Mengapa Sahur Run Banyak Diminati?
Sahur run semakin digemari karena memberikan alternatif waktu olahraga yang lebih nyaman selama Ramadan. Udara malam yang lebih sejuk membuat aktivitas lari terasa lebih ringan dibandingkan berlari di siang atau sore hari.
Selain itu, waktu sahur yang dekat dengan aktivitas lari memungkinkan pelari untuk segera mengisi kembali energi tubuh. Menurut dokter spesialis kedokteran olahraga dr. Andhika Raspati, SpKO yang dilansir di Detik Health, salah satu keuntungan sahur run adalah pelari masih bisa langsung memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi setelah berolahraga.
Ia menjelaskan bahwa pelari “masih bisa makan minum sepuasnya” setelah berlari karena waktunya berdekatan dengan sahur.
Manfaat Sahur Run untuk Pelari
Jika dilakukan dengan persiapan yang tepat, sahur run bisa memberikan beberapa keuntungan bagi pelari.
1. Suhu udara lebih nyaman
Udara dini hari cenderung lebih sejuk sehingga tubuh tidak cepat mengalami overheating saat berlari.
2. Bisa langsung mengisi energi saat sahur
Setelah berlari, tubuh bisa segera mendapatkan asupan nutrisi dari makanan sahur untuk menggantikan energi yang terpakai.
3. Menjaga konsistensi latihan saat Ramadan
Banyak pelari tetap ingin menjaga rutinitas latihan selama bulan puasa. Sahur run bisa menjadi solusi agar tetap aktif tanpa mengganggu waktu berbuka.
Risiko Sahur Run yang Perlu Diperhatikan
Meski memiliki beberapa manfaat, sahur run juga memiliki risiko jika tidak dilakukan dengan bijak.
Salah satu tantangan terbesar adalah kurangnya waktu tidur. Berlari pada dini hari bisa memotong waktu istirahat malam, terutama jika seseorang harus bangun sangat pagi untuk mengikuti acara lari.
Menurut dr. Andhika Raspati, aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi saat tubuh kurang tidur dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, terutama pada orang yang memiliki riwayat gangguan jantung atau kondisi kebugaran yang belum optimal.
Selain itu, dokter spesialis jantung dr. Erika Maharani, SpJP(K) juga mengingatkan bahwa olahraga dalam kondisi tubuh sangat lelah sebaiknya tidak dipaksakan. Tubuh tetap membutuhkan waktu istirahat dan recovery yang cukup agar fungsi tubuh tetap berjalan optimal.
Tips Aman Mengikuti Sahur Run
Agar tetap aman dan bermanfaat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengikuti sahur run:
• Pilih intensitas lari ringan hingga sedang
• Pastikan tidur cukup sebelum berlari
• Jangan lupa hidrasi setelah aktivitas
• Konsumsi sahur dengan nutrisi seimbang
• Hindari memaksakan diri jika tubuh terasa lelah
Bagi pelari pemula, penting juga untuk mengetahui kondisi kebugaran tubuh sebelum mengikuti event lari, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh.
Jaga Performa Lari dengan Pendampingan Dokter Olahraga
Jika kamu ingin tetap aktif berlari namun tetap aman, berkonsultasi dengan dokter olahraga bisa menjadi langkah yang tepat.
20FIT Sports Clinic memiliki dokter-dokter spesialis sports science yang sudah berpengalaman menangani berbagai kebutuhan pelari. Di sini, runners bisa mendapatkan berbagai layanan seperti konsultasi kondisi tubuh, program latihan yang dipandu dokter, fisioterapi, hingga treatment recovery untuk membantu tubuh tetap prima.
Yang terpenting, kamu tidak harus menunggu cedera untuk datang ke 20FIT Sports Clinic. Dengan pendampingan yang tepat, pelari bisa berlatih dengan lebih aman, meningkatkan performa, sekaligus meminimalkan risiko cedera.
Sumber:
Detik Health